Waktu pertama kali masuk Rumah Singgah, aku sudah lupa tanggal pastinya, tapi aku masih ingat yang menyambut kami waktu itu adalah Ibu Mala. Setelah daftar dan beres administrasi, kami dapat kamar di lantai atas.
Di rumah singgah ini, semua fasilitasnya gratis. Untuk urusan makan, kadang kami masak sendiri di dapur pakai bahan yang sudah disiapkan. Masaknya bebas sesuai selera masing-masing. Tapi ada juga momen seru ketika relawan pendamping masak untuk semua penghuni, jadi bisa makan bareng. Relawan pendamping ini biasanya satu orang dari keluarga pasien, dan memang hanya boleh satu orang saja yang mendampingi.
Rutinitas pagi biasanya dimulai dengan kerja bakti ringan. Kami bareng-bareng bersih-bersih rumah sebelum berangkat ke rumah sakit, sesuai jadwal masing-masing. Yang nggak ada jadwal biasanya tinggal di rumah, masak buat sarapan dan makan siang, santai, atau jalan-jalan keliling kompleks.
Namanya tinggal bareng banyak orang, pasti ada suka dukanya. Kita harus bisa jaga perasaan dan sama-sama berusaha bikin suasana tetap nyaman. Gosip juga kadang muncul dari satu mulut ke mulut yang lain — dan hampir semua orang pernah kena, termasuk pengurus rumah singgah.
Tapi buat aku pribadi, hal-hal seperti itu nggak terlalu aku pikirkan. Fokusku di sana adalah mendampingi orang tua berobat. Dan lama-kelamaan, gosip-gosip itu juga hilang dengan sendirinya.
Malam itu rumah singgah begitu tenang. Lampu-lampu sudah dipadamkan, hanya tersisa cahaya redup di lorong. Aku tertidur pulas setelah hari yang melelahkan di rumah sakit.
Tiba-tiba…
“Rifki! Tolong, Rifki!!”
Suara seorang laki-laki memecah keheningan. Aku terbangun dengan kepala yang masih berat. Jantung langsung berdegup kencang.
“Astaga… apa itu?” gumamku dalam hati, masih bingung mencari arah suara.
Aku berdiri, setengah berlari ke ruang depan, tapi nihil. Tidak ada siapa-siapa.
Teriakan itu terdengar lagi:
“Rifki… tolong!”
Kali ini aku sadar arah suaranya berasal dari dapur. Aku berbalik dan berlari secepatnya.
Di depan pintu WC, kulihat seorang bapak paruh baya terduduk lemas. Tubuhnya gemetar, napasnya berat.
“Tolong…,” ujarnya lirih sambil menunjuk ke dalam.
“Ada apa, Pak!?” tanyaku panik sambil memegang bahunya.
Aku menoleh ke dalam WC—dan tubuhku langsung merinding.
Seorang ibu paruh baya, yang ternyata istrinya, bersandar lemah di dinding. Darah mengalir dari tubuhnya. Pendarahan akibat kanker yang selama ini ia derita.
Sesak rasanya melihat pemandangan itu. 02.30 dini hari, semua orang baru saja terbangun dan berhamburan ke luar kamar. Termasuk Rifki yang namanya disebut sejak awal.
“Harus gimana!? Angkutan nggak ada!”
“Ojek online juga nggak jalan jam segini!”
Semua orang gelisah.
Aku menoleh ke bapak itu.
“Pak… kita tahan dulu pendarahannya. Ibu-ibu bantu ya!”
Beberapa relawan langsung bergerak, berusaha menghentikan darah sebisanya.
Aku keluar, berusaha mencari solusi. Lalu satu hal muncul di kepalaku:
Motor. Itu satu-satunya cara.
Aku berlari kembali ke dalam.
“Pak, kita bawa Ibu naik motor. Saya yang nyetir. Bapak pangku Ibu, ya?”
Bapak itu mengangguk, matanya berkaca-kaca.
Kami membopong ibu pelan-pelan ke motor. Jalanan sepi. Samarinda seperti kota mati di jam itu. Aku memacu motor secepat mungkin, berharap Tuhan menjaga perjalanan kami.
Di depan rumah sakit, ada portal. Normalnya harus ambil kartu parkir.
“Ah, sudahlah!”
Aku terobos saja. Motor langsung kubawa masuk sampai depan IGD. Petugas yang berjaga marah.
“Hei! Motor tidak boleh masuk! Kenapa kamu—”
“Emergency, Pak! Pasien butuh bantuan sekarang!” potongku tegas.
Begitu ibu dipindah ke tempat tidur, barulah aku meminggirkan motor dengan benar. Semua emosi bercampur: tegang, takut, cemas, lelah. Aku keluar sebentar, menyalakan rokok.
Kuhisap perlahan. Asap naik ke udara seperti menenangkan hati yang baru saja berlari mengejar maut.
Saat hendak kembali ke IGD, aku mampir ke mushola untuk cuci tangan. Begitu melihat celana putihku… aku terhenyak.
Penuh darah.
Aku langsung kembali ke rumah singgah. Turun dari motor, membuka celana itu di depan pintu kamar, menyisakan bokser. Celana penuh darah itu langsung kubuang. Badan ini terasa lusuh, letih, tapi harus tetap waras. Aku mandi, berganti baju.
Azan subuh berkumandang.
Mata masih berat tetapi kaki tetap melangkah kembali ke rumah sakit.

Di depan IGD, bapak itu duduk sendiri. Kepalanya tertunduk. Aku duduk pelan di sampingnya.
“Gimana, Pak… kondisi Ibu?”
Ia mengangkat wajah pelan. Matanya sembab. Tidak ada jawaban.
Hanya gelengan kecil.
Dadaku langsung panas. Tapi aku mencoba memastikan. Aku masuk ke IGD. Di sudut ruangan, satu tempat tidur tertutup kain putih dari kepala sampai kaki.
Aku mendekat.
Tanganku terulur untuk membuka penutup wajah. Tapi tiba-tiba otakku mengirim bayangan film horor. Kaget sendiri, tanganku sempat kutarik.
Aku menutup mata sebentar, menarik napas.
“Sudahlah… ini kenyataan.”
Perlahan kubuka kain itu.
Wajah ibu itu terlihat damai. Tapi dingin. Tak bergerak. Sudah berpulang.
Aku menarik napas panjang. Air mata tak jatuh, tapi rasanya seperti menahan badai di dalam dada.

Kabar itu segera kusampaikan ke rumah singgah. Para pengurus datang sekitar jam 7 pagi, berkumpul di ruang jenazah. Ibu itu akan dipulangkan ke kampung halamannya.

Malam itu…
di rumah singgah kecil, aku menyaksikan bagaimana hidup dan maut berjalan begitu dekat.
Dan itu adalah salah satu pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.