Tanggal 19 Oktober 2019. Kalau diingat-ingat, tanggal itu jadi hari terakhir aku bisa meluk dan ngobrol langsung sama Mama di dunia ini. Rasanya? Ya ampun, rindu ini cuma bisa diungkapin lewat doa. Sedihnya, aku ngerasa belum sempat banget bikin Mama bahagia, belum sempat ngasih apa-apa yang besar.
Bukan, ini bukan soal enggak terima takdir. Ini murni cuma RINDU yang tumpah ruah.
Tapi, aku juga bersyukur banget! Minimal, aku sempat jadi orang yang merawat dan ngurus Mama dengan tangan sendiri selama beliau sakit, baik pas di rumah maupun di rumah sakit. Itu kenangan yang enggak akan pernah bisa kebeli.
🏥 Awal Mula Perjuangan di Kota Orang
Perjalanan panjang kami dimulai di Samarinda. Setelah didiagnosis penyakit yang lumayan serius, Mama harus dirujuk ke RSUD AWS. Nah, di sinilah semua cerita perjuangan dan kenangan itu dimulai.
Modal awal cuma uang seadanya. Mikirnya, "Ah, paling sebentar doang di sana." Ternyata? Pengobatan Mama butuh waktu dan proses yang lumayan panjang.
Awalnya, kami ngekos. Bayangin, sewa kosnya aja sekitar 3 jutaan! Itu belum termasuk kebutuhan makan, transport, dan lain-lain. Setelah 3 bulan di sana, rasanya pengeluaran udah kayak air bah, enggak terkendali sama sekali. Jujur, panik banget.
🚶 Niat Baik Selalu Ada Jalan
Aku enggak mau nyerah. Suatu hari, aku coba jalan-jalan keliling area rumah sakit, muter otak, gimana caranya biar pengeluaran ini bisa ditekan. Aku harus cari solusi biar bisa lebih fokus ngurus Mama tanpa harus mikirin biaya hidup yang bikin pusing.
Aku sempat ikut gabung sama remaja masjid di sana, terus kenalan juga sama komunitas-komunitas kesehatan. Aku cari, cari, dan terus cari.
Sampai akhirnya, ketemu! Namanya KSK (Komunitas Support Kanker).
Waktu tahu tentang komunitas ini, rasanya kayak dikasih oase di tengah gurun. KSK ini komunitas keren banget, bergerak di bidang kesehatan dan benar-benar supportive. Bayangin, semua kebutuhan dasar kami di sana ditanggung! Mulai dari makan sampai tempat tinggal, SEMUA GRATIS! Enggak ada pungutan biaya sama sekali.
Ini beneran rezeki yang dikirim Tuhan lewat orang-orang baik. Kebaikan ini lah yang bantu aku dan Mama melewati masa-masa sulit di perantauan.
Di lain waktu saya akan sedikit ceriakan pengalaman saya selama dirumah singgah kanker
🌟 Pesan dari Hati:
Kadang, kita ngerasa belum bisa ngasih materi yang mewah ke orang tua. Tapi percayalah, bakti dan waktu yang kamu berikan saat mereka butuh, terutama saat sakit, itu nilainya jauh lebih tinggi dari harta apapun.
Terima kasih ya Ma, sudah jadi Ibu yang hebat. Rinduku selalu kurangkai dalam setiap doa. Al-Fatihah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar