Kamis, 20 November 2025

Cerita Tinggal di Rumah Singgah

Waktu pertama kali masuk Rumah Singgah, aku sudah lupa tanggal pastinya, tapi aku masih ingat yang menyambut kami waktu itu adalah Ibu Mala. Setelah daftar dan beres administrasi, kami dapat kamar di lantai atas.

Di rumah singgah ini, semua fasilitasnya gratis. Untuk urusan makan, kadang kami masak sendiri di dapur pakai bahan yang sudah disiapkan. Masaknya bebas sesuai selera masing-masing. Tapi ada juga momen seru ketika relawan pendamping masak untuk semua penghuni, jadi bisa makan bareng. Relawan pendamping ini biasanya satu orang dari keluarga pasien, dan memang hanya boleh satu orang saja yang mendampingi.

Rutinitas pagi biasanya dimulai dengan kerja bakti ringan. Kami bareng-bareng bersih-bersih rumah sebelum berangkat ke rumah sakit, sesuai jadwal masing-masing. Yang nggak ada jadwal biasanya tinggal di rumah, masak buat sarapan dan makan siang, santai, atau jalan-jalan keliling kompleks.

Namanya tinggal bareng banyak orang, pasti ada suka dukanya. Kita harus bisa jaga perasaan dan sama-sama berusaha bikin suasana tetap nyaman. Gosip juga kadang muncul dari satu mulut ke mulut yang lain — dan hampir semua orang pernah kena, termasuk pengurus rumah singgah.

Tapi buat aku pribadi, hal-hal seperti itu nggak terlalu aku pikirkan. Fokusku di sana adalah mendampingi orang tua berobat. Dan lama-kelamaan, gosip-gosip itu juga hilang dengan sendirinya.

Malam itu rumah singgah begitu tenang. Lampu-lampu sudah dipadamkan, hanya tersisa cahaya redup di lorong. Aku tertidur pulas setelah hari yang melelahkan di rumah sakit.

Tiba-tiba…

“Rifki! Tolong, Rifki!!”

Suara seorang laki-laki memecah keheningan. Aku terbangun dengan kepala yang masih berat. Jantung langsung berdegup kencang.

“Astaga… apa itu?” gumamku dalam hati, masih bingung mencari arah suara.

Aku berdiri, setengah berlari ke ruang depan, tapi nihil. Tidak ada siapa-siapa.
Teriakan itu terdengar lagi:

“Rifki… tolong!”

Kali ini aku sadar arah suaranya berasal dari dapur. Aku berbalik dan berlari secepatnya.

Di depan pintu WC, kulihat seorang bapak paruh baya terduduk lemas. Tubuhnya gemetar, napasnya berat.

“Tolong…,” ujarnya lirih sambil menunjuk ke dalam.

“Ada apa, Pak!?” tanyaku panik sambil memegang bahunya.

Aku menoleh ke dalam WC—dan tubuhku langsung merinding.

Seorang ibu paruh baya, yang ternyata istrinya, bersandar lemah di dinding. Darah mengalir dari tubuhnya. Pendarahan akibat kanker yang selama ini ia derita.

Sesak rasanya melihat pemandangan itu. 02.30 dini hari, semua orang baru saja terbangun dan berhamburan ke luar kamar. Termasuk Rifki yang namanya disebut sejak awal.

“Harus gimana!? Angkutan nggak ada!”
“Ojek online juga nggak jalan jam segini!”
Semua orang gelisah.

Aku menoleh ke bapak itu.

“Pak… kita tahan dulu pendarahannya. Ibu-ibu bantu ya!”
Beberapa relawan langsung bergerak, berusaha menghentikan darah sebisanya.

Aku keluar, berusaha mencari solusi. Lalu satu hal muncul di kepalaku:

Motor. Itu satu-satunya cara.

Aku berlari kembali ke dalam.

“Pak, kita bawa Ibu naik motor. Saya yang nyetir. Bapak pangku Ibu, ya?”
Bapak itu mengangguk, matanya berkaca-kaca.

Kami membopong ibu pelan-pelan ke motor. Jalanan sepi. Samarinda seperti kota mati di jam itu. Aku memacu motor secepat mungkin, berharap Tuhan menjaga perjalanan kami.

Di depan rumah sakit, ada portal. Normalnya harus ambil kartu parkir.

“Ah, sudahlah!”

Aku terobos saja. Motor langsung kubawa masuk sampai depan IGD. Petugas yang berjaga marah.

“Hei! Motor tidak boleh masuk! Kenapa kamu—”

“Emergency, Pak! Pasien butuh bantuan sekarang!” potongku tegas.

Begitu ibu dipindah ke tempat tidur, barulah aku meminggirkan motor dengan benar. Semua emosi bercampur: tegang, takut, cemas, lelah. Aku keluar sebentar, menyalakan rokok.

Kuhisap perlahan. Asap naik ke udara seperti menenangkan hati yang baru saja berlari mengejar maut.

Saat hendak kembali ke IGD, aku mampir ke mushola untuk cuci tangan. Begitu melihat celana putihku… aku terhenyak.

Penuh darah.

Aku langsung kembali ke rumah singgah. Turun dari motor, membuka celana itu di depan pintu kamar, menyisakan bokser. Celana penuh darah itu langsung kubuang. Badan ini terasa lusuh, letih, tapi harus tetap waras. Aku mandi, berganti baju.

Azan subuh berkumandang.

Mata masih berat tetapi kaki tetap melangkah kembali ke rumah sakit.


Di depan IGD, bapak itu duduk sendiri. Kepalanya tertunduk. Aku duduk pelan di sampingnya.

“Gimana, Pak… kondisi Ibu?”
Ia mengangkat wajah pelan. Matanya sembab. Tidak ada jawaban.
Hanya gelengan kecil.

Dadaku langsung panas. Tapi aku mencoba memastikan. Aku masuk ke IGD. Di sudut ruangan, satu tempat tidur tertutup kain putih dari kepala sampai kaki.

Aku mendekat.

Tanganku terulur untuk membuka penutup wajah. Tapi tiba-tiba otakku mengirim bayangan film horor. Kaget sendiri, tanganku sempat kutarik.

Aku menutup mata sebentar, menarik napas.

“Sudahlah… ini kenyataan.”

Perlahan kubuka kain itu.

Wajah ibu itu terlihat damai. Tapi dingin. Tak bergerak. Sudah berpulang.

Aku menarik napas panjang. Air mata tak jatuh, tapi rasanya seperti menahan badai di dalam dada.

Kabar itu segera kusampaikan ke rumah singgah. Para pengurus datang sekitar jam 7 pagi, berkumpul di ruang jenazah. Ibu itu akan dipulangkan ke kampung halamannya.

Malam itu…
di rumah singgah kecil, aku menyaksikan bagaimana hidup dan maut berjalan begitu dekat.

Dan itu adalah salah satu pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.


Samarinda, Kota Saksi Bisu Bakti dan Keteguhan Hati


Tanggal 19 Oktober 2019. Kalau diingat-ingat, tanggal itu jadi hari terakhir aku bisa meluk dan ngobrol langsung sama Mama di dunia ini. Rasanya? Ya ampun, rindu ini cuma bisa diungkapin lewat doa. Sedihnya, aku ngerasa belum sempat banget bikin Mama bahagia, belum sempat ngasih apa-apa yang besar.

Bukan, ini bukan soal enggak terima takdir. Ini murni cuma RINDU yang tumpah ruah.
Tapi, aku juga bersyukur banget! Minimal, aku sempat jadi orang yang merawat dan ngurus Mama dengan tangan sendiri selama beliau sakit, baik pas di rumah maupun di rumah sakit. Itu kenangan yang enggak akan pernah bisa kebeli.

🏥 Awal Mula Perjuangan di Kota Orang
Perjalanan panjang kami dimulai di Samarinda. Setelah didiagnosis penyakit yang lumayan serius, Mama harus dirujuk ke RSUD AWS. Nah, di sinilah semua cerita perjuangan dan kenangan itu dimulai.
Modal awal cuma uang seadanya. Mikirnya, "Ah, paling sebentar doang di sana." Ternyata? Pengobatan Mama butuh waktu dan proses yang lumayan panjang.
Awalnya, kami ngekos. Bayangin, sewa kosnya aja sekitar 3 jutaan! Itu belum termasuk kebutuhan makan, transport, dan lain-lain. Setelah 3 bulan di sana, rasanya pengeluaran udah kayak air bah, enggak terkendali sama sekali. Jujur, panik banget.

🚶 Niat Baik Selalu Ada Jalan
Aku enggak mau nyerah. Suatu hari, aku coba jalan-jalan keliling area rumah sakit, muter otak, gimana caranya biar pengeluaran ini bisa ditekan. Aku harus cari solusi biar bisa lebih fokus ngurus Mama tanpa harus mikirin biaya hidup yang bikin pusing.
Aku sempat ikut gabung sama remaja masjid di sana, terus kenalan juga sama komunitas-komunitas kesehatan. Aku cari, cari, dan terus cari.

Sampai akhirnya, ketemu! Namanya KSK (Komunitas Support Kanker).



Waktu tahu tentang komunitas ini, rasanya kayak dikasih oase di tengah gurun. KSK ini komunitas keren banget, bergerak di bidang kesehatan dan benar-benar supportive. Bayangin, semua kebutuhan dasar kami di sana ditanggung! Mulai dari makan sampai tempat tinggal, SEMUA GRATIS! Enggak ada pungutan biaya sama sekali.
Ini beneran rezeki yang dikirim Tuhan lewat orang-orang baik. Kebaikan ini lah yang bantu aku dan Mama melewati masa-masa sulit di perantauan.

Di lain waktu saya akan sedikit ceriakan pengalaman saya selama dirumah singgah kanker

🌟 Pesan dari Hati:
Kadang, kita ngerasa belum bisa ngasih materi yang mewah ke orang tua. Tapi percayalah, bakti dan waktu yang kamu berikan saat mereka butuh, terutama saat sakit, itu nilainya jauh lebih tinggi dari harta apapun.
Terima kasih ya Ma, sudah jadi Ibu yang hebat. Rinduku selalu kurangkai dalam setiap doa. Al-Fatihah.


 

Minggu, 16 November 2025

Mulai lagi




Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat datang di postingan pertama blog baru ini! Bagi para pembaca setia, mungkin ada yang sudah mengenal saya sebagai seorang blogger sejak tahun 2011. 

Saya telah lama menulis dan berbagi berbagai pengalaman di platform blogger. Namun, baru-baru ini blog lama saya menghilang tanpa jejak, tidak terdeteksi di Google, meskipun beberapa kontennya masih bisa diakses melalui URL tertentu. 

Kejadian ini memang sempat membuat semangat menulis saya sedikit menurun, sebenernya malas sih untuk membuat baru lagi, karena harus mengulang dari awal, sementara blog saya yang sebelumnya view per hari sudah mecapai 500-1000 view, angka yang yang fantastis bagi saya

Ya karena saya pengen menulis lagi jadi yaaa saya buat lagi lah

Di blog baru ini, saya bersemangat untuk menyalurkan hobi menulis kali saja bisa menjadi media saya untuk belajar dan mudah-mudahan bisa membuat buku lagi heheheee.

Ke depannya, blog ini akan menjadi tempat saya berbagi hal-hal yang saya cintai, mulai dari pengalaman pribadi, cerita-cerita inspiratif, hingga tulisan seperti diari yang penuh makna, pokoknya sama lah seperti blog Saya catatan si memet, saya juga berencana untuk mengeksplorasi berbagai topik unik yang bisa memberi inspirasi dan motivasi bagi para pembaca di luar sana.


Semoga blog ini tidak hanya menjadi tempat curahan hati, tetapi juga sebuah ruang yang dapat memberikan nilai tambah dan semangat baru. Terima kasih atas dukungan dan selamat menikmati setiap tulisan di blog ini!


Blog di Era Digital : Mengapa Menulis Masih Penting

 Di zaman sekarang ini sangat cepat kita bisa mendapatkan informasi cukup dengan membuka sosial media atau bertanya pada AI, maka informasi ...